SELINGKUH
Dina berlari ke ujung lorong, sembunyi di balik tiang bangunan belanda itu. Sandi tampak kebingungan di awal lorong. Tapi ia melihat bayangan Dina yang jatuh ke lantai dari kejauhan. Sandi berjalan mendekati.
“Kamu selingkuh sih..”, kata Sandi. Kedua tangannya dilipat ke belakang seperti istirahat di tempat, kakinya seperti menendang-nendang batu ( padahal tidak ada batu, orang itu tegel kok ).
“Jangan nuduh dong !”, Dina membalikan badan dan menatap Sandi. Sandi buang muka salah tingkah.
“Terus kenapa kamu mau dicium Geri ?”
“Kan aku udah bilang, gak ada apa apa kok..”
“Tapi kamu dicium Geri..”
“Kamu gak pernah cium Dina”
“Tapi kamu pacar aku..”
“Tapi aku pengen dicium..”
Sandi menatap Dina terus mengerenyitkan jidatnya.
“Geri suka ngasih minumannya, suka meluk..”
“Kalo gitu kita putus..”
“Tapi Geri bodo, kamu pinter..”
“Tapi kamu lebih suka Geri..”
“Geri kan pacarnya Dea..”
“Ya kamu lebih suka Geri daripada aku..”
“Kamu baek, gak pernah berkelahi.. Mama kamu baek.. Maafin..”
“Aku kesel..”
“Iya maafin Dinaaa.. Dina gak akan mau lagi dicium Geri..”
“Dipeluk ?”
“Gak..”
“Minum punya Geri ?”
“Sandi aku suka haus..”
“Hhhh....”
“Iya nggak..”
“Ya udah.. Kita nggak putus..”
“Kamu mau jajan apa ?”
Teng ! Teng ! Teng ! Bel sekolah berbunyi, tanda waktu istirahat habis.
“Yaaa.. Keburu masuk.. “
“Ya udah nanti istirahat kedua jajan bareng ya..”
“Oke.. Eh San, anak kelas 5 ikut karyawisata ke museum itu gak sih ?”
“Ikut, kenapa ? Anak kelas 4 nggak emang ?
“Ikut.. Nanti bareng ya.. Daaagh !” Dina berlari pergi. Sandi berjalan pergi.
Dina dan Sandi tidak putus sampai akhirnya Sandi masuk SMP. Dina tidak pernah dicium Sandi, tapi selalu dicium Geri sampai akhirnya Geri pun masuk SMP. Sandi dan Geri satu kelas di SMP, mereka bersahabat baik. Dina terkenal sebagai player hingga usia 32 tahunan.

